(Reblogged from remember-that-feeling)

Alfa. Sebuah Awal.

Aku janji ngga akan menangis, saat melihat kamu pergi dan berjalan,

makin jauh…

dan makin jauh…

Aku janji ngga akan memanggil nama kamu lagi, walaupun aku mau kamu kembali.

Aku janji ngga akan mencari kamu lagi, walaupun aku butuh kamu ada di sampingku.

Aku janji semua akan baik-baik saja.

Aku janji akan tetap ceria.

Aku janji untuk belajar tersenyum lagi.

Tapi aku ngga perlu janji,

untuk selalu ingat kamu saat hujan turun,

untuk selalu ingat kamu saat aku pergi ke perpustakaan,

untuk selalu ingat kamu saat aku lihat Spiderman,

untuk selalu ingat kamu di manapun aku ada,

Karena aku ngga akan pernah lupa semua hal yang pernah kita lakukan sama-sama.

Aku ngga akan pernah lupa semua tempat, meskipun hanya di sekolah kita, di mana kita sering ngobrol tentang apa aja.

Aku ngga akan pernah lupa hal-hal yang kamu suka, bahkan yang kamu ngga suka.

Aku juga ngga akan pernah lupa sama kalimat favoritmu, “Aku suka apa yang kamu ngga suka.”

Aku ngga akan pernah lupa sama panggilan kamu untuk aku: “Dek…” yang menurut kamu artinya: Dede Pendek.

Coba kalau semuanya bisa diulang lagi, aku ingin bisa seperti itu lagi.

Aku ingin selamanya ada kamu.

Tapi sayangnya… Aku hidup di dunia yang waktunya ngga bisa diputar balik lagi.

Kamu udah ngajarin aku bagaimana rasanya sangat sayang sama seseorang, rasanya cemburu, rasanya takut kehilangan, dan akhirnya … Rasanya benar-benar kehilangan.

Mungkin ngga kamu ajarin aku 1 hal lagi? Rasanya… Saat orang yang kita sayang hilang, dan dia kembali lagi…

Itu hanya pertanyaan. Mungkin ngga?

Aku tahu aku ngga akan dapat jawabannya, dan mungkin ngga akan pernah.

Tapi, pada akhirnya, walaupun aku ngga bisa bersama kamu lagi,

walaupun kamu sendiri bilang kamu sudah berubah dan ngga akan kembali lagi,

di hatiku kamu tetap Tibra yang sama,

seperti 1 tahun yang lalu,

seperti saat pertama kali kita kenalan,

seperti saat pertama kali kita bertengkar,

seperti saat pertama kali kita bergandengan tangan,

dan selamanya ngga akan pernah berubah.

Dan begitu juga rasa sayangku akan tetap ada di hati aku,

walaupun nantinya aku ngga tahu kamu ada di mana dan bagaimana kabar kamu.

Kamu akan selalu jadi segala-galanya yang pernah aku punya.

Sampai kapanpun, kamu akan tetap jadi yang terbaik buat aku.

Love forever,

Alfa

7 tahun lalu, ia menerima surat yang ada di genggamannya. Tapi baru hari ini ia memutuskan untuk membukanya. Entah apa yang menahannya selama ini untuk tidak membacanya.

Alfa, Alfa… Di mana kamu sekarang?

Pemuda itu berdiri di depan sebuah gerbang sekolah. Tempat ia dan Alfa dahulu setiap hari berpisah untuk tidak sabar bertemu kembali esok harinya. Semua selalu terasa ringan dan cerah ketika Alfa muncul.

Perlahan ia memperhatikan gerbang yang digembok. Terdapat segel dan papan pengumuman buruk rupa yang mengatakan bahwa tanah tempat di mana sekolah ini berdiri telah jadi milik pengembang properti. Tibra tersenyum samar.

“Seberapa banyak pun uang yang bisa kita kumpulkan, tidak bisa mencegah hal ini ya?” Tibra menoleh pada pemilik suara yang juga menepuk pundaknya.

“Iya Dre. Yang bisa mencegahnya ya, cuma pemerintah daerah saja. Sayang, hati mereka sudah di tempat yang salah.” Tibra menjawab sembari tersenyum.

Banyak sekali orang yang berkumpul di depan gedung sekolah Mutiara Bangsa yang akan dirubuhkan. Hari ini akan jadi hari terakhir sekolah itu berdiri. Sekolah yang telah mengirimkan puluhan anak bangsa memenangkan medali di olimpiade internasional.

Mereka, para alumni dan guru, berdiri tenang. Sesekali bicara, namun tidak ada yang mengisyaratkan akan terjadi sesuatu yang dikhawatirkan para satuan polisi.

Satu persatu kini ratusan orang yang datang untuk mengucapkan perpisahan dengan sekolah tercinta mereka meninggalkan tempat itu. Mencoba mengingatnya terakhir kali dengan senyum.

Tibra merasakan sinar mentari perlahan meninggalkan gedung sekolah itu. Kini tinggal ia dan beberapa orang lain.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Duduk di atas sebuah bangku usang, seorang gadis dengan mata besar dan cemerlang, tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang khas, menatap Tibra.

Tibra tercengang.

7 tahun berlalu. Jantungnya masih bertalu melihatnya. Wajahnya masih memanas dibuatnya. Lututnya tiba-tiba saja lemah ketika perlahan berjalan ke arah gadis itu.

Alfa mengulurkan tangannya. Tibra tanpa ragu menyambutnya.

“Tidak apa-apa,” seru gadis itu.

“Kamu ngga sedih?” Tibra mencari kesedihan di mata gadis itu.

Alfa menggeleng.

“Setiap akhir menuntun kita pada awal baru, Tibs.”

Mereka berjalan perlahan menikmati semburat terakhir sinar matahari.

“Awal dari kita?”

Gadis itu tersenyum sebelum menjawab, “Kalau itu katamu, Tibs.”

Malam menjelang. Pertanda satu hari berakhir.

Ketika esok datang, Tibra tahu hidupnya akan berubah. Jemari yang menggenggam erat tangannya inilah yang meyakinkannya.

(Reblogged from remember-that-feeling)
(Reblogged from remember-that-feeling)

(Belum) Terlambat

“Hello, this is Hizkia. I cannot be reached at the moment. Please leave your message after the beep sound. Thank you.”

Jill mendengar bunyi beep pelan kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Hi, Ki. Sibuk ya? Mmm, seharusnya ini diomongin langsung, tapi aku takut nanti ngga punya keberanian lagi. Jadi… Ehm, maaf kalau voice mail ini akan jadi panjang ya.”

Jill menggigit bibirnya sebelum melanjutkan.Menahan segala keberaniannya agar tidak segera menguap secepat biasanya.

It’s funny how long it took before I realize that I definitely can’t live without you. Berkali-kali aku berkata ‘tidak’ ketika kamu mengajak aku untuk memperjuangkan ‘kita’. Aku terlalu takut, Ki. Aku selalu berpikir, bagaimana kalau mereka yang benar, dan kita yang salah? Bagaimana kalau setelah berjuang mati-matian, kita pada akhirnya tetap harus berjalan masing-masing?”

Sebulir air mata mengalir cepat di pipi Jill.

“Lalu ada Yudith. Aku optimis kalau aku akan bisa hidup dengan Yudith. Begitu juga kamu bisa hidup dengan Lila. Dan masing-masing kita bisa bahagia dengan saling melepaskan.

Is there still a chance, even the tiniest one, for us to be together? Aku tahu Ki, aku terlambat 4 tahun untuk menanyakan hal ini, tapi, kalau aku masih boleh berharap, adakah Ki? Bukan berarti aku sudah berani. Belum Ki, belum. Tapi sekarang aku siap untuk terluka. Toh selama ini terpisah dari kamu sudah melukai aku begitu hebat.”

Wajah Jill basah oleh air mata.

“Kemungkinan kita untuk gagal sangat besar, aku tahu. Dan mungkin kamu pun dari dulu selalu tahu, tapi kamu selalu mengulurkan tangan untuk mengajakku menghadapi semua ini. Aku selalu menepis uluran tanganmu itu.

I was wrong. I shouldn’t have ran away from you. I should’ve ran away with you.

Jill berhenti sebentar untuk mengatur nafasnya.

“Itu aja Ki. Iya ini sangat terlambat, dan sangat mendadak. Dan aku siap dengan kalimat penolakan dari kamu. Apapun jawaban kamu, aku dengan senang hati menunggu. Tidak usah buru-buru Ki, pikirkanlah dulu baik-baik.”

Dan Jill memutuskan sambungan telepon itu. Ia menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Kini ia harus menanti Hizkia untuk menghubunginya kembali.

Jika Hizkia masih menantinya, maka perjalanan yang akan mereka tempuh di depan mata adalah perjalanan panjang yang Jill tahu sangat berbahaya. Ia beranjak dari tempat duduknya, menuju kamarnya namun ia tidak menyalakan lampu.

Ia berlutut, menangis dalam diam, dan menaikkan sebuah permintaan pada Tuhan. Permintaan yang tidak pernah berani ia sampaikan karena takut akan jawabannya.

Subuh menjelang, dan gadis itu belum berhenti menaikkan lantunan doanya yang terputus-putus diselingi derasnya air mata.

You don’t forget the face of the person who was your last hope.
Suzanne Collins, The Hunger Games (via incanta)
(Reblogged from remember-that-feeling)
(Reblogged from remember-that-feeling)

Fruitpunch

*flashback*

Kedua remaja itu tahu bahwa waktu yang mereka miliki sangat amat singkat. Mungkin mereka tidak akan bersama-sama lagi saat matahari terbenam nanti. Ini kebebasan mereka yang pertama. Dan terakhir. Mereka harus memanfaatkan sebaik-baiknya.

“Al, mau makan apa?

“Terserah, aku mau apa aja kok.”

“Dunkin? Aku lagi pingin beef pastrami sandwich…”

“Ayo!”

Mereka dikejar waktu. Tapi saat berdua, mereka tidak peduli dengan apa yang ada di belakang mereka. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan apa yang ada di depan mereka. Meskipun yang ada di belakang dan di depan mereka akan menghalangi mereka untuk tertawa lagi.

Untuk bergandengan lagi.

Untuk bersama lagi.

“Padahal aku maunya nonton yang lain, Tibra.”

“Iya, kita datengnya telat sih, makanya abis deh.”

Mba-mba di counter Dunkin Donuts menghampiri mereka dengan senyum ramah. Senang melihat sepasang anak muda ini di hadapannya. Mba-mba itu jadi teringat masa-masa pacaran dulu dengan lelaki yang kini sudah menjadi ayah dari anak-anaknya.

“Selamat siang, mau pesan apa?” tanya mba-mba Dunkin.

Muffin coklatnya deh mba, setengah lusin,” kata Alfa.

“Sama beef pastrami sandwich ya, mba,” giliran Tibra.

“Minumnya apa?” tanya mba-mba Dunkin.

Chocolate milk!” Alfa memesan minuman kesukaannya.

“Saya….. Hmm…” Tibra melihat Alfa yang ada di sebelahnya sambil tersenyum.

“Kamu mau apa?” Alfa bingung karena tiba-tiba Tibra tersenyum padanya.

“Itu aja deh, mba, fruit…” Tibra mengambil jeda sejenak, dan melanjutkan, “Punch…” sambil memukul Alfa lembut dengan gaya seperti seorang petinju yang memberikan PUNCH pada lawannya.

Mba-mba Dunkin dan Alfa hanya tertawa melihat tingkah Tibra tersebut.

*now*

Fruitpunch?” tanya mas-mas Bakso Malang yang sedang mengantarkan pesanan Alfa.

“Iya, makasih mas,” kata Alfa.

Alfa menyeruput minuman di depannya itu.

Mengenang masa-masa dahulu saat Tibra masih ada dan menemaninya. Biasanya Tibra yang memesan fruitpunch. Alfa hanya mencicipinya sedikit karena Alfa hanya suka minuman manis yang rasanya coklat. Menurut Alfa fruitpunch itu asam, dan ia tidak suka.

Tapi ternyata kehidupan tidak selalu manis seperti coklat yang disukainya. Hidup itu lebih seperti minuman yang ada di depannya saat ini.

Tibra pergi.

Bukan. Bukan Tibra yang pergi. Aku yang pergi.

Bukan juga. Keadaan yang memaksa kami pergi dari hadapan masing-masing.

Namun kini Alfa tahu bahwa kepergian itu bukan mutlak. Ia tidak pernah bertemu Tibra lagi. Tapi ia tahu bahwa Tibra baik-baik saja, dan bahagia. Ia yakin bahwa Tibra juga tahu bahwa Alfa baik-baik saja, dan tegar. Kenangan bersama yang miliki tidak akan pernah hilang dan akan selalu ada di sana saat mereka berdua membutuhkan kenangan itu untuk terus hidup.

Alfa hanya berharap suatu hari nanti, entah kapan, ia dan Tibra sekali lagi dapat menikmati fruitpunch bersama-sama, dan mungkin sekali lagi menikmati kebersamaan mereka yang hangat. Kebersamaan yang selalu membawa senyum bagi siapapun yang berada di dekat mereka. Seperti yang mereka bagi untuk mba-mba Dunkin itu.
Semoga saja.

(Source: blushpink)

(Reblogged from remember-that-feeling)
(Reblogged from fromme-toyou)